48 Responses to “Penyebab & Solusi Tepat Menghadapi Anak Marah dan Mengamuk”

  1. Dwi Prini Astuti says:

    Saya ibu RT dg 2 orang anak laki-laki, anak saya yg besar usia 10 th, yg kecil usia 6 th. Anak saya yg besar memiliki sifat susah diatur, pemarah & cenderung emosional juga terlalu menggampangkan sesuatu. Bila sudah marah, seisi rumah dibuat berantakan & merusak barang. Berbagai cara sudah saya & suami coba untuk merubah sifat buruk anak saya tsb, tapi tidak juga berhasil. Apakah yg harus saya lakukan untuk menghadapi sifat anak yg seperti ini….?

    • erin says:

      Halo Bu Dwi Prini,
      kalau menurut saya, ketika anak usia 10tahun marah sampai tidak bisa dikontrol, pada saat ia mengamuk, langkah yg pertama singkirkan smua barang-barang yang sekiranya bahaya/ dapat pecah jika ia lampiaskan pada saat marah. Lalu, sedapat mungkin alihkan perhatiannya pada sesuatu yang membuatnya berhenti dari mengamuk dan diam.
      Setelah beberapa waktu ia merasa tenang dan dapat berfikir jernih, berikan pengertian kepadanya bahwa yang telah ia perbuat itu bukan sikap yang baik, merusak & tidak disukai Tuhan. Misalnya: “nak, kalau marah mengamuk sampai merusak barang-barang rumah itu tidak baik, Ibu Bapak susah mencari uang, kok cuman buat dirusak. Mendingan kan uangnya buat beli baju kamu, mainan kamu, buku kamu. Tidak boleh diulang lagi ya..?”
      Dengan jalan agama juga bisa, misalnya, ikutkan dia pada kursus agama,atau memanggil guru mengaji. Dengan sesorang yang ia takuti/hormati seperti tokoh agama/guru mengaji, anak akan di ajari akhlak yang baik, hormat kepada orang tua. Atau anda dapat bercerita kpd guru di sekolahnya. Agar saat mengajar di kelas, Guru sekolah dapat mengajarkan sikap2 yang terpuji/tingkah laku baik.
      Jika cara ini blm juga berpengaruh, konsultasilah pada psikiater anak. Dia dapat menganalisis dan memberi solusi yang baik ttg kejiwaan anak.
      Semoga bermanfaat :)

  2. Saya orang tua memiliki masalah anak suka marah.penyebabnya kemarahan karena keinginannya yang kuat tidak bisa tercukupi.selanjutnya bila menghadapi pelajaran yang dianggap sulit juga marah marah. bila marah sangat menghawatirkan orang tua . gemana solusi atau cara mengatasinya?

    • erin says:

      Yang perlu di ingat, menuruti semua kemauan anak bukanlah jalan yang baik. Jika orangtua menuruti semua kemauan anak akan mengakibatkan anak menjadi pribadi yang menuntut dan manja disaat besar nanti. Mereka belum mengerti / belum dapat berfikir seperti orang dewasa; mana yg baik/tidak, mana yang salah/benar.

      Sebagai orangtua harus tegas, bijaksana dan tenang dalam menyikapi anak ketika marah, jangan menjadi ikut2an emosi di saat anak marah/mengamuk. JIka anak cenderung pemarah,, Memeberikan pengertian dan menanamkan sifat-sifat baik harus sering dilakukan ketika anak sedang tidak marah. Atau memberikan teladan dengan tidak sering memarahinya/anda tidak membuat keributan di rumah dengan pasangan anda. “Tidak galak, bukan berarti Tidak tegas.”

      Dari segi agama juga harus seimbang. Menanamkan sifat mulia kepada anak. Anda berdoa & anak pun diajarkan demikian. Berusaha & berdoa memohon kepadaNya agar semua menjadi lebih baik sesuai harapan.

      Untuk masalah pelajaran yang sulit, sebaiknya anda turut aktif membantu sebisa anda. memantau prestasi belajarnya, memahami kesulitannya, bila perlu memberikan kursus/les pelajaran tambahan utknya, serta berkonsultasi dengan guru di sekolahnya. Sehingga guru memahami kesulitan belajar si anak.

      Semoga saran dari saya membantu dan bermanfaat

  3. ANASTASIA says:

    sore….saya ibu bekerja…4 hari ini anak saya usia 6th, setiap bel sekolah berbunyi pasti langsung nangis sampai teriak2…bapaknya harus nungguin sampai dia pulang…sempat dia bilang kalo ada kakak kelasnya yang mengganggu…tapi ketika ditanya, dia tidak mau menyebutkan nama anak tersebut….bagaimana solusinya ya mbak….thanks a lot

    • boim says:

      mungkin yang membuat anak menjadi menangis mendengar bel sekolah adalah karena trauma ada kakak kelas yang sering mengganggunya, entah itu perlakuan fisik atau ejekan. karena intensitas gangguan dan perlakuan buruk dari kakak kelas itulah yang membuatnya takut bersekolah.

      hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama dengan bantuan dari pihak sekolah. ibu bisa berkonsultasi dengan guru si anak dan menceritakan masalah yang dihadapi. saya percaya pihak sekolah akan membantu mengawasi anak ibu ketika berada di sekolah.

      bujuk si anak untuk bercerita apa yang membuatnya takut. dengan sering mengajak bercerita nanti lama-kelamaan akan membuat percaya diri si anak bangkit. si anak akan merasa ada orangtua dan guru di sisinya yang siap melindunginya.

      semoga solusi di atas dapat diselesaikan dengan baik. sehingga tidak perlu mengambil keputusan pindah ke sekolah lain. terlalu menyita waktu dan tenaga.

    • erin says:

      iya benar sekali seperti masukan dari mas Boim. Saya sependapat. JIka masalah yang timbul di sekolah dan berkaitan dengan temannya di sekolah, sebaiknya Ibu melaporkannya kepada guru/kepala sekolah. Dengan berkonsultasi dengan mereka lansung. Sekolah sebenarnya tempat belajar, mendidik agar anak menjadi bermoral baik, menumbuhkan percaya diri dan mandiri. Dengan berkonsultasi langsung kepada Guru, sehingga anda/suami tidak perlu repot menunggui pada saat jam belajar anak.

      Tanamkan rasa “my parent is my friend” di rumah. Dengan menjalin komunikasi intens (menjalin kedekatan dengan anak) di sela-sela kesibukan anda. Mungkin anda dapat bertanya kembali pada anak anda, ketika mood si anak sudah baik, sehingga ia lebih leluasa jujur bercerita kepada anda. Jangan menginterogasi yang kesannya memarahi/dengan nada keras.

      Semoga bermanfaat

  4. pramesti says:

    Saya memiliki anak berumur 1thn 10bln. Saya suka bingung bagaimana harua bersikap menghadapi kemauannya yang keras sekali jika sedang kumat. Terkadang jika dia mau a saya kasih syarat haru melakukan b dulu baru dapet a, dan strategi ini terkadang berhasil. Tetapi klo kemauannya lagi keras dia mau sesuatu dan tidak mau pakai syarat apapun, saya bingung menghadapinya. Krn jika saya biarkan dia akan menangis sekencang mungking, memforsir suaranya sampai teriak melengking. Saya sebenarnya bisa saja berusaha tenang dan membiarkan ia menangis dan tetap menawarkan opsi b baru memberikan yg ia inginkan. Klo dia tetap tidak mau, tetap saya tidak beri keinginannya sampai ia mau melaksanakan opsi b dulu. Tapi org disekitar saya (ayah dan ibu kandung saya) tidak setuju dgn tindakan saya, mereka bilang saya tega membiarkan anak nangis tersedu-sedu. Biasanya ayah saya akan mengambil anak saya dan mengalihkan supaya tidak menangis, krn ayah saya paling tidak bisa mendengar anak kecil menangis. Kalau suami saya beda lagi, dia memperbolehkan saya bersikap seperti itu tapi hanya sampai batas tertentu, jika menangisnya tidak berhenti, kita sbg orangtua mengalah dulu, alasannya ia khawatir terjadi apa-apa dengan pita suara anak saya (ia selalu membayangkan pita suara anak saya bisa putus).

    Sungguh saya bingung bagaimana sikapn yg benar ketika anak saya nangis kejer. Fyi, anak saya belum terlalu lancar bicaranya. Dia msh bicara satu kata, belum bisa menggabungkan 2 kata. Saya gak tahu umur segini sebenarnya sudah bisa diajak ngobrol dua arah dan dikasih pengertian gak.. Saya sunggung bingung, tolong bantu saya..

    • Erin_SdS says:

      Halo mba Pramesti,
      Sebelumnya terimakasih sudah berkunjung di SDS.
      Menurut saya, anak usia 22 bulan sudah dapat diajak berbicara 2 arah. Memang, rata-rata bayi mulai bisa berbicara usia 18 bulan. Namun, bukan berarti dia tidak mengerti/paham jika ibu/orangtua nya sedang berbicara ya. Tentu saja, Anda memberitahu dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti balita. Komunikasi kepada balita tidak bisa diterima oleh si balita jika dalam kondisi ia marah atau menangis. Jadi, beri waktu ketika ia tenang dan moodnya lebih baik.

      Sebenarnya sa-sah saja Anda membiarkan ia menangis kencang, apalagi jika bayi sudah mulai besar dalam hal ini akan 2 tahun. Dia akan berhenti menangis sendiri, ketika melihat hal-hal yang mengalihkan perhatiannya. Jadi Anda/suami jika tidak tega melihatnya menangis, ya cobalah se kreatif mungkin untuk dapat mengalihkan perhatiannya.

      Apa yang dilakukan ayah/ibu Anda ada benarnya, namun sebisa mungkin hindari pertengkaran (Ayah Anda memarahi Anda di hadapan anak Anda), karena akan berdampak si anak manja kepada nenek/kakek. Jika sudah tenang, cari waktu yang tepat membujuk dengan cara yang halus,agar anak mau menurut apa yang Anda maksud/perintahkan.

      Semoga bermanfaat

    • Erin_SdS says:

      tambahan:

      jika pengalaman saya, ketika saya cuek membiarkan balita menangis. Ketika kondisi sbg orangtua, saya sedang capek / dia tidak mau dibujuk dengan mengalihkan perhatian apapun, asal balita berada di tempat aman/tidak merusak, dll si anak akan berhenti menangis sendiri ketika dia sudah mulai capek atau bahkan ia badmood karena mengantuk, lalu tertidur sendiri setelah menangis kencang (kelelahan).

      Kadang hal ini membuat orangtua merasa bersalah dan kasian kepada anak. Percayalah, bahwa hal ini terkadang diperlukan agar membentuk pribadi anak yang tidak manja kedepannya. Bukan orangtua yang menuruti semua kemauan anak. Namun, orangtua mengarahkan hal-hal yang sebaiknya anak lakukan.

      Kalau sudah begini, saya menciumi anak saya yang tertidur sendiri setelah menangis kencang. Sambil mengelus dan berbicara lembut (seolah sedang memberitahunya) tentang yang saya maksudkan tadi.

      Setelah ia terbangun lagi dengan mood yang baik, beri dia kasih sayang yang lebih, mengajaknya bermain agar ceria, dan menemaninya. Nah, saat seperti ini adalah saat yang paling tepat untuk memberitahu sesuatu yang anda maksud. Tentu saja dengan bahasa yang mudah dimengerti anak. Misalnya: “adek harus pintar ya kalau minum vitamin. Kan biar badannya kuat, seperti superman. Vitaminnya enak lho.. rasa stroberi. Hmm nyam nyam.. bunda suka vitamin.”

      • umi says:

        Setuju sama bu eriiin ^_^
        Ga masalah membiarkan mereka menangis sampai tenang, saat amukannya mereda, dia akan belajar berlogika,, kenapa ibu saya begini padahal saya maunya begitu ya??
        Dengan catatan, jauh dari bahaya. Kalau ngamuknya di luar rumah ya harus ditenangkan dengan kreatif….

        sesekali saya juga biarkan mereka tahu, bagaimana rupa ibunya kalau marah :D
        salah nggak yaaaaaa?
        sekarang di umurnya yang 3.5th, dia paling takut kalau saya sudah diam dan berpaling muka. Dia akan bereaksi dengan dua macam, menangis atau segera meminta maaf. Justru kalau saya ngomel-ngomel, dia masih santai aja #fiuuh

  5. sri wahyuni says:

    Saya mempunyai putri umurnya 5 tahun 6 bulan.saya punya keluhan anak saya suka sekali ngambek ujung-ujungnya nangis.Terkadang justru emosi saya yang lepas kendali sampai menasehati tapi nadanya agak tinggi.Sebenarnya anak saya seorang anak yang mandiri cuma gampang ngambek jika ada yang tidak berkenan dihatinya.Mohon saran dan solusinya

    • Erin_SdS says:

      Halo Ibu Sri Wahyuni,
      Maaf baru sempat membalas. Sebelumnya terimakasih sudah mampir di blog kami. Menurut saya, tidak ada masalah yang serius dengan putri Ibu. Ini hanya karena sifat masing-masing anak yang berbeda. Yang biasanya diturunkan dari kebiasaan orangtua / cara didiknya, sehingga menurun kepada anaknya / anak mudah meniru apa yang ia lihat kebiasaan yang orangtua lakukan. Oleh karena itu, sedapat mungkin Anda dan suami menjaga sikap emosi jika di depan anak-anak.

      Tapi, kembali kepada masing-masing individu, tiap anak pun berbeda, ada yang cenderung tidak mudah menangis (bandel), ada juga yang sensitif (mudah tersinggung). Jadi, sebagai orangtua, coba beri pengertian kepadanya dengan hata-kata lembut yang mudah dipahaminya ketika menjelaskan sesuatu hal yang membuatnya tidak berkenan dihatinya. Yang perlu dihindari, menjelaskan dengan cara memarahinya / memberitahu dengan nada tinggi, itu malah akan membuatnya menangis dan marah kepada Anda / mengamuk.

      Semoga bermanfaat

  6. rere says:

    slm kenal.anak sy berusia 3.5thn sudah 7bulan ini sy masukan di playgroup,dia sudh hafal smua hruf mengaji klo drmah mau, itupun hrs merayu,,mslhny slma 7bln ini anak sy blm mau ngaji sma ibu gurunya.ap yg hrs sy lakukan…sy smpai bingung sgala cara sudah sy lakukan,pdhal temene sudah ke jilid 2.mohon solusinya..trimaksh

    • Erin_SdS says:

      Halo Ibu Rere, sebelumnya Trimakasih sudah mampir dan sharing di sini.

      Karakter anak memang sangat beragam. Anak Ibu mungkin, salah satu yang cenderung introvert (tertutup) dan pemalu. Ciri-ciri intovert diantaranya malas mengungkapkan isi hati atau pendapatnya kepada orang yang belum terlalu kenal dekat,cenderung pendiam,tidak banyak komentar,bicara seperlunya,kurang ekspresif, senang mengamati daripada bicara, senang bekerja sendiri ketimbang harus bekerja kelompok.

      Namun jangan menganggap pribadi introvert tidak normal. Introvert biasanya karena faktor genetik, lingkungan dan juga faktor usia yang masih muda. Mungkin anak Ibu salah satu anak yang butuh waktu lebih banyak untuk proses adaptasi kepada guru mengajinya, sehingga berani mengeluarkan “kebisaan” mengajinya. Lebih intens pertemuannya dan lakukan pendekatan guru mengaji harus lebih sabar dan kreatif dalam menghadapi dan merangsang anak 3,5tahun agar mau “bersuara/mengaji”. Perlu diingat bahwa seorang anak memiliki kepribadian yang masih dapat berubah, sehingga tidak tertutup kemungkinan baginya untuk dapat berkembang menjadi lebih optimal melalui peran orangtua dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk anak. Misalnya, dalam kesehariannya biasakan/sertakan anak mengikuti aktifitas sosial, agar anak dapat belajar bersosialisasi/ bergaul. Meskipun anak memiliki kepribadian Introvert, tetapi karena dia dikondisikan untuk bergaul dia akan berkembang optimal tanpa kehilangan ciri kepribadiannya. Misalnya, dengan mempertemukan teman sebaya yang cenderung ekstrovert, sehingga anak bisa menjadi lebih terbuka, ikut-ikutan mau berbicara/bercerita. Teman yang ideal sebayanya yang memiliki pribadi yang suka berteman, ramah, spontan, suka bercerita/cerewet, humoris, baik hati. Tidak ada salahnya diajak bermain di rumah/saat di playground dekat rumah. Sehingga diharapkan si anak akan balance antara pribadi introvert dan ekstrovert, menjadi tidak pemalu.

      Semoga bermanfaat

  7. Febriyanti says:

    Siang mba, anak saya dhifa umur 3thn7bulan sifatnya keras sekali. Ayahnya suka gak sabaran kalo liat dhifa sudah mulai rewel, ayahnya agak emosian. Saya pun terkadang suka sampai menyerah menghadapi sifatnya. Kalo sama saya juga ayahnya ngomongnya suka triak2, gampang nangis, minderan maunya kalo apa2 minta ditemenin sama saya. Bagaimana agar sifat anak saya bisa berubah lebih baik, dan tidak minder kalo bergaul. Trimakasih mba…

    • donita says:

      sama seperti anak saya. mungkin karena suka dimarahi, jadi sekarang sering minder dan gampang nangis, seperti manja gitu.

      kalo dari yg saya baca, anak kecil itu egonya masih tinggi. jika dia dimarahi, dia akan semakin melawan. jadi harus dibujuk dan diberitahu dengan nada halus.

      saya juga mulai sekarang belajar mengurangi memarahi anak dengan nada keras. tapi tetap disiplin menghukum kalo anak tidak mau makan. setelah dihukum biasanya saya belikan makanan kesukaannya atau saya ajak jalan2 ke mana dia suka.

      mungkin menjadi ‘teman’ buat anak lebih baik daripada sebagai ‘orang tua’.

    • Erin_SdS says:

      Halo Ibu Febriyanti, Terimakasih sudah mampir dan sharing di sini.

      Sifat anak yang keras utamanya karena faktor keturunan. Jika anda/suami memiliki sifat moody dan keras, biasanya akan menurun kepada anak. Untuk mengendalikan sifat anak yag keras, ketika ia berteriak sebaiknya sebagai orangtua tidak terpancing untuk ikut-ikutan “menjadi keras” seperti berbicara kepada anak dengan nada keras/memarahi balik. stay calm.. :) Sedikit dicuekin, jika dia merengek manja. Sedikit-sedikit jangan asal menuruti kemauan anak, hal ini akan membuatnya manja.
      Anak mudah nangis dikarenakan sifat sensitif yang mungkin selama ini anda/suami sering memarahinya. Jadi, tegaslah terhadap anak, namun tidak perlu galak dan keras (sehingga membuat anak takut). Pada akhirnya dia akan menjadi tidak pede/takut bergaul.

      Hadapi anak dengan cara halus/lembut, diajak berbicara dan diberi pengertian. Misalnya, dengan membujuk dan sedikit bercerita hingga ia mau mengerti dan tersenyum. Anak tumbuh dengan belajar dari didikan orangtuanya. Dengan tanggungjawab dititipi anak oleh Tuhan, Orangtua pun wajib belajar menjadi orang yang lebih baik dan bijaksana. Sekeras-kerasnya anda/suami, sebaiknya tidak ditampakkan pada anak, agar dia tidak meniru sifat buruk orangtuanya.

      Semoga bermanfaat

    • Erin_SdS says:

      tambahannya,

      untuk masalah minder/pemalu dalam bergaul, usia 3th 7bl memang wajar masih dalam proses pengenalan dengan lingkungan. Tanamakan nilai sosial bergaul dengan teman sebayanya. Pertama kali mungkin masih tergantung pada orangtuanya, cenderung menempel. Hal tersebut wajar, karena masing-masing karakter anak berbeda tidak dapat disamakan. Jadi jangan pernah ragu melatih kemandirian, support dia untuk sering berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Jika sudah menemukan teman yang cocok, pasti dia akan berani bermain bersama temannya.

      • hanny says:

        siang mba, anak saya 2 tahun 4 bulan suka ngambek kalo suka ngambek semua barang di sekitar dia dilempar dan kalo saya dan papnya bilang jangan barang apapun yang dipegangnya langsung dilempar kadang papanya suka emosi bila melihatnya anaknya begini dan anak saya kalo sedang bermain dengan temannya suka menggigit atau mencakarnya…. bagaimana cara mengatasinya ya ?

        terima kasih

  8. hanny says:

    siang mba, anak saya berumur 2 tahun 4 bulan… suka ngambek banting barang dan lempar barang disekitarnya papanya suka emosi juga kalo liat anaknya begitu… dan anak saya suka mencakar dan menggigit temannya bila sedang main dan bila dia sedang marah. bagaimana cara mengatasinya ya? terimakasih

  9. Erin_SdS says:

    Selamat siang Hanny,
    Terimakasih telah berkunjung dan Sharing di Sini.

    Menurut saya;
    Anak balita memang belum dapat berfikir seperti layaknya orang dewasa. Pada umumnya sifat mereka masih alami bawaan dari orangtua dahulu sewaktu kanak-kanak. Nah,silakan intropeksi, kalau bukan dari ibunya ya ayahnya, model si kecil jika sedang marah. Untuk mengatasinya, ketika dia marah, harus ada orang dewasa yang mengawasi dan menyingkirkan barang-barang yang sekiranya berbahaya jika dilempar. Dia tidak akan menerima kata-kata Anda jika langsung anda marahi. Malah sebaliknya, akan membentuk karakternya untuk suka berbicara dengan nada marah-marah. Lebih baik gendong dan bawa ke tempat yang mengalihkan perhatiannya. Atau diamkan saja, namun singkirkan dari barang-barang yang berbahaya (seperti pecah belah). Jika dia sudah tenang, baru Anda memberitahunya, misalnya : “melempar barang itu tidak baik, nak. Nanti bunda bisa kena terus mata bunda sakit tidak bisa main-main dengan kamu lagi dong. Kalau melempar bola boleh, tapi di taman saja ya..?”

    Kebiasaan anak yang suka menggigit dan mencakar temannya itu juga hal biasa yang terjadi pada anak balita. Nah, inilah pentingnya pengawasan dan penjagaan orang dewasa (orangtua/pengasuh/guru). Jika ia sedang berkumpul dengan teman-temannya, tetap harus diawasi. Walau tidak selalu didekat/sampingnya (saat ia bermain dengan teman sebayanya), namun harus diawasi tingkah laku dan perilakunya. Ketika ada anak yang menyakiti/berperilaku menyerang teman yang lain, para orangtua/pengasuh/guru harus segera memanggil nama anak yang berusaha menyakiti temannya dan atau segera melerai. Dengan begitu si anak yang menyerang akan menengok kepada yang memanggil dan mengerti, bahwa hal tersebut adalah tidak boleh dilakukannya. Dengan kata-kata bisa juga: “Nanti temannya sakit dan nangis kalau dicubit. MEncubit tidak baik. Dengan temanmu harus baik ya..”.

    Semoga bermanfaat

  10. Rita says:

    selamat siang mba,
    saya punya anak perempuan berumur 2 thn 2 bln. dia punya kebiasaan yg jujur menganggu sekali untuk saya. dia senang sekali membuntuti saya setiap saya pergi kemanapun. misalkan saya ke dapur untuk sekadar untuk cuci tangan pun dia mengikuti saya terus bahkan ketika saya (maaf) untuk buang air dia juga mengikuti saya. selain itu anak saya kalau marah/ngamuk sering mengeluarkan suara “uh uh uh” atw “ih ih ih” atw “mi mi mi pi pi pi”. sedangkan untuk panggilan ke org tua adlh ayah bunda. terdengar sangat menganggu buat saya, suami dan org2 di dekatnya. dan dia ketika marah harus dituruti keinginannya, kalau tidak dia akan menangis keras kdg sampai berteriak. saya sudah menasihatinya tapi ia tetap tidak mau dibilangin dan akhirnya saya mendiamkannya sampai ia diam sendiri. namun ayahnya terkadang tidak tegas, sehingga ia akhirnya menyerah. bahkan anak saya ini kalau mengamuk terus menempel sama saya tetapi pada ujungnya ia kerap mencakar muka&menjambak rambut saya. memang di rumah hanya ada saya dan anak cuma apakah sampai saya buang air harus di ikuti juga?apakah itu wajar? saya ingin anak saya bisa main atau berkreatif sendiri. sudah sering saya menasihatinya tapi dia kalau sudah mengamuk tidak mau mendengar jadi nasehat2 saya jadi terasa sia2.
    saya benar2 bingung dengan sikap anak saya padahal saya selalu menasihatinya setiap hari. saya berpikir mau menyekolahkannya supaya ia bisa bersosialisasi dan tidak terpaku oleh saya saja. terima kasih mba.

    • Erin_SdS says:

      Halo Rita, Terimakasih telah berkunjung dan Sharing di Sini.

      Perilaku putri Anda sangat wajar untuk anak seusianya. Perilaku tersebut umum terjadi jika anak di dalam kesehariannya lebih sering bersama Ibu (yang bekerja di rumah/tidak bekerja di kantor), Ibu tanpa asisten rumah tangga/pengasuh anak, atau keseharian yang kurang sering berjumpa dengan kerabat/teman, misalnya adalah tidak tinggal bersama nenek/kakek/tidak bertemu teman sebayanya setiap hari dan ditambah lagi si anak belum mulai sekolah. Tidak perlu khawatir. Jadi dalam hal ini, kemandirian anak-anak belum terbentuk, dan anak merasa ibu adalah satu-satunya teman terbaiknya.

      Nah, namun yang perlu diwaspadai, ketika anak menangis dan mulai merengek yang terlalu dibuat-buat seperti hi hi hi — hu hu hu — perilaku tersebut cenderung mengindikasikan bahwa si anak mulai manja/ingin selalu mencuri perhatian orangtua. Benar respon dari Ibu, sebaiknya tidak usah terlalu risau/terganggu sehingga ibu/ayahnya berusaha mendiamkan dan repot-repot menghiburnya. Sebaiknya diamkan saja, sampai dia diam sendiri teralihkan perhatiannya, karena melihat sesuatu/Anda melakukan aktifitas kesibukan harian Anda yang membuat perhatiannya teralihkan.
      Karena, anak kecil itu cerdas dan pandai, maka ia berbuat cari perhatian orangtuanya dengan cara seperti itu. jadi, tetep berusaha memperhatikan/mengawasi, namun tak perlu risau, terpancing emosi dan repot berusaha menasehatinya ketika ia berbuat manja seperti itu. Lebih baik diamkan saja, agar tidak membentuk perilaku manja pada anak.

      Perilaku mandiri, (tidak manja, tidak lengket terhadap si ibu) akan hilang dengan sendirinya, ketika anak sudah mulai masuk sekolah. Mungkin pada awal-awal belum terlalu terlihat. Biasanya 1 minggu sekolah sudah dapat dilihat, anak akan mandiri dan lebih pandai/tidak manja pada ibu.

      Semoga masukannya membantu :)

  11. rita says:

    saya puya anak perempuan usiamya 34 bulan sudah sekolah baru satu bulan, kalau dirumah ato sehabis pulang sekolah kalau main sama kakak sepupu kadang egonya tinggi suka teriak ga boleh gitu tiap hari begitu ada momen momen tapi sering kadang saya bosa dan bising jarena nenek dan kakek dan sekitarnya selalu kompline anak saya galak lah ini lah kadang saya ga teima dengan ucapan itu apa itu juga salah satu anak saya jadi suka marah dan berteriak to apa ya….kalau anak saya marah dan berteriak saya cuma diam dan mencoba menenangkan walaupun kadang kesal juga dan kadang pingin iku marah juga karena orang sekitar kata-katanya mengejas anak saya biang keladinya mnt solusi ibu erin makasih

    • Erin_SdS says:

      Terimakasih Rita sudah berkunjung dan Sharing di Sini.

      Anak-anak (balita) saat bermain / beraktifitas memang seharusnya di bawah perhatian orangtua/orang dewasa. Dalam hal ini bisa ibu kandung, saudara, nenek, kakek, pengasuhnya atau gurunya ketika ia berada di sekolahnya.

      Perilaku anak memang beragam, dalam hal ini balita. Semua diadaptasinya dari lingkungan sekitar. Bisa dari orangtua, teman di sekolah, televisi atau kebiasaan lingkungan lainnya, seperti keluarga dimana setiap hari ia berinteraksi.

      Nah, tinggal Anda intropeksi sendiri, kira-kira sikap si kecil yang suka mengatur/teriak/ galak terhadap teman bermainnya (sepupu)itu diadaptasi si kecil darimana/dari siapa?

      Sebaiknya tidak perlu meng-judge si kecil/hindari bullying/ mengejek terhadap anak karena akan berakibat tidak baik pada psikologi anak. Mungkin maksudnya adalah orangtua anda (si nenek) bermaksud mengadu kepada Anda ketika kejadian tersebut Anda tidak berada di tempat itu.

      Nah, kalau begitu, jika kejadian tersebut hanya ada si nenek berada di samping anak-anak, dalam hal ini nenek berhak mengawasi (sebagai orang dewasa) saat mereka bermain. Misalnya si nenek melihat kejadian saat anak Anda mulai galak/mengatur/memaksakan sesuatu pada teman yang lainnya, ya seketika itu langsung berikan pengertian. “Ayooo..bermain sama-sama yaaa.., Gantian ya, tidak boleh berebut.., Oo kakak ini tidak suka main yang ini, adek mainan yang itu dulu yuk…”, dll.

      Kuncinya, peran orangtua/orang dewasa sangat penting dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak termasuk dalam berinteraksi dengan teman sebayanya. orangtua wajib berperan/ikut bertanggungjawab dalam pembentukan moral anak.

      Maka tanamkan moral-moral yang baik pada anak. Misalnya, dengan bercerita yang mengandung moral baik, saat Anda sekeluarga santai, misalnya saat akan tidur. Sehingga anak mampu menyerap moral perilaku baik yang sebaiknya dilakukan dan perilaku buruk yang tidak boleh dilakukan.

      Semoga bermanfaat

  12. versi says:

    selamat siang .., saya punya 3 orang anak laki umur 8 th 7 bl, 7 th dan 5 th 7 bl. Anak pertama dan kedua kalo marah saya masih bisa mengatasi… tapi kalo yang bungsu saya tidak mampu. Si bungsu kalo meminta sesuatu tidak segera dituruti (karena saya masih sibuk dengan kedua kakaknya) dia akan marah-marah kemudian menendang atau membuang apapun yang ada didekatnya. Sudah banyak beberapa barang yang dirusaknya……bagaimana cara mengatasinya ? terimakasih

    • Erin_SdS says:

      Selamat malam Ibu Versi.
      Terimakasih telah berkunjung dan sharing di sini.

      Karakter anak memang masing-masing berbeda. Anak usia 5 tahun sebenarnya sudah dapat diajak berkomunikasi dan diberi pengertian mengenai hal yang benar / salah, hal yang baik / buruk. Namun, tentu saja, Anda harus menyesuaikan waktu yang tepat untuk menasihatinya. Pada saat anak mengamuk, emosinya tidak terkendali sehingga jika Anda menasihatinya tentu tidak akan mempan. Nah,mengatasi pada saat ia mengamuk sebaiknya singkirkan barang-barang berbahaya yang hendak dibantingnya. Kedua kakaknya mungkin bisa membantu Anda untuk menyingkirkan barang yang berharga.

      Upaya untuk menasihati harus lebih intensif. Diantara waktu-waktu yang mustajab untuk menasihati anak adalah:sebelum anak tidur/sebelum tertidur, ketika anak sedang tidur (bisikkan di telinganya, secara berulang-ulang/tidak hanya 1x waktu saja), saat anak baru bangun tidur (emosi anak lebih stabil), setelah anak mandi, setlah anak melakukan doa/beribadah. Misalnya jika anda beragama islam dapat dinasihati setelah anak berdoa, sholat, selepas mengaji.

      Selain itu, terus tanamkan moral-moral baik di kelaurga. Saat berkumpul dengan keluarga, dengan menasehatinya secara lembut,seperti saat keluarga bercanda/bercengkrama, selipkan kata-kata bijak bukan dengan cara memarahinya. Misalnya: “Adek memang pintar dan ganteng, tapi kalau marah jangan sampai merusak barang-barang ibu ya? nanti kalau ibu kelempar ibu sakit/berdarah bagaimana?.. itu tidak baik. besok lagi jangan diulangi ya, nak”.

      Semoga bermanfaat ya, Bu.

  13. irene says:

    Selamat mlm, saya memiliki anak perempuan berumur 13 bulan.sampai sekarang saya masih menyusui tp lbh sering jika dia mau tidur saja. Beratnya hanya sekitar 8kg-an sedangkan tingginya sktr 76cm.saya melihat ditabel standar berat dan tinggi disesuaikan dengan umurnya,berat bdnnya msh kurang. Saya sudah mencoba bermacam2 resep makanan,tapi dia makannya sedikit 3-5sendok saja. Sehari dia makan 3x ditmbh 1x juice.biasanya dia makan dikursi tinggi khusus kursi makan bayi.sambil memegang2 mainan dia.mulai minggu lalu,dia kalau makan dan duduk disitu suka ga betah,mainanannya suka dijatuh2in.krn dia suka denger bunyi brg2 yg jth ke lantai.stiap kt ambil dan ksh k dia,slalu lgsg dibuang lg. Dan kalau ga diambil lg,dia psti akn berdiri dr kursi meskipun udh dipakein seat belt gt.kalau ga ada mainan/brg lebih cpt dia ga betahnya.ditmbh jg skr dia baru tahu berjalan.jadi maunya jalan melulu.yg saya takuti dia jd kebiasaan kalau makan harus jalan2.
    Sy mau tanyakan: 1. Bagaimana menaikkan berat bdnnya?apakah ada standar pola makan? 2. Bagaimana cara agar dia makan betah di kursi makannya tanpa hrs membuang2 brg2? 3.apakah benar kl udh terbiasa makan sembari jln/main akan seterusnya begitu? 4.bagaimana cara memarahi dgn bijak kalau dia membuang2 brg tmsk mainanny? Mohon petunjuknya.Terima kasih

    • Erin_SdS says:

      Halo Ibu Irene. Terimakasih sudah mampir dan sharing di sini.

      Berat badan anak relatif ya pertambahannya masih-masing anak tentu berbeda. Tapi, berat badan yang seharusnya dicapai dalam 1 tahun usia anak adalah 3x berat badan lahir. Jadi ibu bisa mengira-ngira apakah kurang atau sudah sesuai dengan BB nya sekarang. Namun tentu tidak harus ama persis ya. Faktor-faktor lain mempengaruhi, seperti turunan secara bentuk fisik dari orangtua dan faktor lainnya, seperti makanannya kurang maksimal jumlahnya yang masuk ke dalam perut kecilnya, atau faktor kesehatan si anak. Standar pola makan untuk anak usia 1tahun ke atas, sudah sama dengan orang dewasa, makan 3x sehari. Tambahan untuk usia toddler di sela waktu itu adalah cemilan seperti biskuit bayi, puding, atau kue yang aman untuk balita, dan buah. Dan susu tentunya (ASI/+sufor).

      Agar anak betah di kursi makannya, mungkin ibu harus lebih kreatif. Misalnya, jika dia sudah bosan ditemani mainan, boleh ketika makan duduk di kursi makannya sambil di setelkan acara baby TV, acara khusus anak-anak/balita yang mengedukasi, sehingga mengalihkan perhatiannya. Atau anda bacakan buku cerita yang bergambar besar-besar. Sambil anda bercerita menalihkan perhatiannya, disela-sela itu, anda menyuapkannya makanan, dengan cara mengalihkan perhatiannya dan menyemangati supaya mulutnya mau terbuka dan makan makanannya. JIka anda sudah mengajarkannya untuk makan sendiri (memakai mangkok, sendok dan makanannya) boleh saja ketika makan bersama keluarga. Namun, jika yang masuk jumlah makanannya sangat sdikit (misal hanya untuk mainan saja, berarti Anda harus menambahkan/menyuapinya setelah makan bersama keluarga selesai atau waktunya dapat di balik, yakni menyuapi di kursi makannya sebelum waktu makan bersama keluarga, lalu saat makan bersama keluarga ajarkan dia makan di piringnya yang berisi cemilannya. Usia 13 bulan sudah bagus anak diajarkan makan di kursi bayinya. Namun, jangan terlalu ideal, agar anak makan harus di kursi makannya. Paling tidak pengenalan makan bersama keluarga duduk di kursi makan bayi, itu sudah melatih kebiasaan baiknya. Ketika anak belajar jalan pun, tidak masalah, Anda sambil menyuapinya biskuit atau makanan kesukaannya.

      Makan sambil jalan bukan akan terbiasa seperti itu selamanya. Sebenarnya ketika dia sudah besar, misalya sudah bersekolah atau sudah mengerti jika diberitahu, maka ia akan mengerti bahwa makan yang baik adalah dengan cara duduk di meja makan. Ini hanya masalah mengajarkan kemandirian/kebiasaan baik kepada anak sejak dini. Ada beberapa orangtua yang merasa tidak mau repot/ribet karena jika anak makan sendiri akan kotor/belepotan/berantakan/kelamaan atau makanan yang masuk tidak maksimal. Memang terlihat tidak maksimal hasil untuk anaknya pada awalnya, namun seiring waktu, biasanya anak-anak mulai terbiasa makan sendiri, dengan dampingan dan semangat dari orangtua tentunya. Misalnya, ketika dia menyukai menunya, coba tambahkan lagi porsinya ketika dia masih mau makan. Sebenarnya, anak-anak hanya butuh dampingan, pengalih perhatian, agar dia dapat melahap sampai habis makanan yang diberi orangtuanya.

      Anak 13 bulan biasanya belum paham benar jika diberi tahu. Mungkin dia akan melakukan hal yang sama lagi, diulang kembali. Namun, tidak masalah jika dia melempar-lempar. Solusinya, beritahu dia, lama-lama dia akan mengerti. Misal: “Jika dilempar, mainannya nangis lho..terus ngga mau main lagi sama adek. YUk, kita nonton dora aja.” atau “yuk, mama sambil baca buku cerita aja.” ya.

      Semoga masukannya bermanfaat

  14. Ditha says:

    Hallo bu Erin,

    Bu saya pny anak usia 5 thn, dia sk sekali mencakar leher org. Saya sudah mencoba menasehati dan memberi pengertian kepadanya tp masih saja d lakukan. Terkadang saya tdk enak sm org tua teman2nya. Sering sekali sy meminta maaf kpd mereka. Krn perbuatan anak saya tsb akhirnya anak su d jauhi teman2nya. Gmn yaaa bu mengatasi ini semua..thx

    • Erin_SdS says:

      Hallo Ibu Ditha,
      terimakasih telah berkunjung dan sharing di sini.

      Sudah wajar, yang namanya anak kecil seperti itu ya, Bu. Yang sudah dewasa pun terkadang juga ada yang seperti itu. Lupa/sengaja mengulang kesalahan yang sama. Tidak masalah bu, sering – sering saja mengingatkannya ketika ia hendak bermain bersama teman-temannya. Atau terapkan hipnoterapi saat ia tertidur. Saat ia baru saja terlelap, bisikkan kata berulang-ulang yang menekankan hal-hal (kata-kata) positif yang ingin Anda nasihati kepada anak. Misal: “Adik, pinter ya.” atau “Adik sayang sama teman-teman ya.” atau “Teman-temannya harus di sayang ya.” hal itu diucapkan secara lembut, perlahan dan berulang-ulang. Jangan lakukan seklai waktu saja, namun sampai beberapa kali/beberap ahari kedepan.

      Anda tidak akan bisa mengatur anak orang untuk dapat bermain dengan anak Anda. Jadi, tetap saja berusaha/tidak putus asa untuk mengajak dia untuk bergabung kepada teman-temannya. Yang pasti dengan jaminan bahwa teman-temannya tidak akan disakiti lagi oleh anak Anda. Anda/asisten anda/guru di sekolahnya turut menjaga/memperhatikannya. Tidak perlu menjaga terlalu dekat di samping/mendampingi disebelahnya, namun perhatikan saja. Dan sebelumnya tidak lupa, pesankan kepadanya saat bersama teman-temannya, “bermain bersama-sama ya, sayangi teman-temanmu”.

      Semoga bermanfaat

  15. dimas says:

    ass,,mbak saya punya anak laki2 umur 1 thn 3 bulan,anak saya punya kebiasaan yg kurng bagus,,suka buang mainan,biasanya kalo hbis minum susu botolnya lngsung di lempar bahkN HP saya jg sering di lempar pokokx apa yg dia pegang itu pasti di buang,,dan satu lg mbak kalo di dekati oramg yang baru dia kenal pasti marah n gak mau di sentuh,,mohon bantuanx mbak bagai mana solusinya,,,terimakasih mbk.. wassalamualaikum…

    • Erin_SdS says:

      Wa’alaikum salam Mas Dimas,
      Sebelumnya, terimakasih telah berkunjung dan Sharing di Sini.

      Anak usia 1tahun-an masih sangat wajar jika mempunyai naluri membuang-buang benda-benda yang ia pegang. Termasuk, botol susu dan bahkan handphone Anda. Untuk itu, tugas para orang dewasa (orangtua khususnya) adalah menjaga dan mengawasi apa yang ia pegang dan ada di dekatnya. Jika sekiranya ada barang-barang berharga dan pecah belah, sebaiknya disimpan jauh dari jangkauan anak balita.

      Selain itu, Anda sering-seringlah menanamkan nilai – nilai positf kepada anak balita Anda saat bermain bersama.
      Misalnya: Ini bola. Yang boleh dilempar hanya bola saja ya, dek. Yuk, main lempar dan tangkap bola dengan Ayah. Adik lempar, ayah yang menangkap. Lalu Anda boleh melatih saraf motoriknya sesuai kemampuannya dengan bergantian, Anda yang mengoper bola, si anak yang menangkap.

      Jika anak-anak masih sering refleks melempar mainannya, mobil-mobilan, misalnya. Anda dapat mengoreksi tindakannya tersebut. Misal: Ini bukan bola sayang, kalau mobil-mobilan cara mainnya begini (sambil mempergakan cara memainkan mainan mobil-mobilan).

      Menurut saya, anak melempar-lempar mainan diantara alasannya adalah: sudah merasa bosan, merasa kurang diperhatikan (dicuekin) sehingga ia marah/mencari perhatian, dan juga memang karena refleks anak kecil. Untuk itu, ajari dengan perlahan mengubah kebiasaan tersebut.

      Demikian juga dengan botol susu. Setelah ia melempar. Ajari dia dengan, nak, kalau sudah habis begini ya: botol di taruh di meja ya (Anda sambil mempraktekkan) atau ajari dia memberikannya ke Bunda, tentu saja, dengan menungguinya saat minum susu (terutama saat susu akan habis).

      Anak suka marah dan tidak suka disentuh dengan orang baru juga wajar, karena masing-masing anak memang berbeda. Tidak perlu terlalu khawatir dan memaksanya langsung mau dngan orang baru. Justru orang baru lah yang harus pandai berputar otak untuk mencari perhatian si kecil; Bagaimana cara mengambil perhatiannya, agar putra Anda mau bermain, diajak, digendong tanpa menangis bersama orang baru tersebut. Namun, selain pasrah dengan sifat bawaan anak tersebut, sebagai orangtua tentu harus mengenalkan anak dengan usia sebayanya. Misalnya, dengan sering mengajaknya bermain ke playground atau kegiatan yang melibatkan anak-anak se-usia nya. Secara tidak langsung, ini akan membiasakan si kecil bertemu dengan orang-orang baru, bersosialisasi, dan melatih keberaniannya.

      Semoga membantu.

  16. jenny says:

    Bu, bagaimana menghadapi anak murid yg sangat pemarah di sekolah sampai kasar terhadap gurunya.trims

    • Erin_SdS says:

      halo Bu Jenny,
      Terimakasih telah berkunjung dan Sharing di Sini.

      Saya pikir, salah satu resiko menjadi seorang guru adalah menghadapi beragam karakter siswa didik yang diantaranya kelompok anak bandel atau nakal. Tidak perlu merasa sakit hati dan marah. Tetaplah sabar dalam menghadapainya dengan kelembutan seorang guru, namun tetap tegas.

      Misalnya: di dalam kelas adalah kendali Anda, jika siswa ribut atau tidak menghargai guru/pelajaran yang sedang berlangusng, mungkin Anda dapat tegas menghukumnya dengan “silakan keluar jika tidak ingin mengikuti pelajaran ini, tapi resiko nilai, Anda tanggung sendiri”.

      Selain itu, Anda dapat bekerjasama dengan guru bimbingan konseling yang langsung berhuungan dengan psikologi anak, mengajak berbicara siswa yang bersangkutan dengan lebih pribadi, tujuannya untuk menggali lebih dalam penyebab masalah yang tidak sepantasnya. JIka tidka ada guru BK, ANda sendiri dapat berbicara langsung dengan siswa, diluar jam pelajran. Ajaklah berbicara dengan baik-baik seperti teman. Biasanya, anak jika diperlakukan lembut dan baik, tentu dia akan menjawab dan berbicara baik juga. Kuncinya adalah sabar dan tidak terpancing emosi ikut marah.

      Selain guru bimbingan konseling, Anda dapat bekerjasama dengan guru PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) / PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan guru Agama, untuk lebih menekankan pada siswa-siswa perihal pentingnya menanamkan dan menerapkan etika, moral dan akhlak yang baik siswa terhadap orangtua/gurunya.

      Dan, tentu tidak lengkap, jika orangtua siswa tidak diberitahukan perihal “masalah” yang terjadi pada anaknya. Untuk itu, tidak ada salahnya Anda berkonsultasi kepada orangtua. Melaporkan dan menjalin komunikasi perihal tingkah dan perilaku anaknya di sekolah. Kerjasama antara guru dan orangtua (sebagai guru di rumah) sangat penting. Mendidik anak dengan kasih sayang (bukan emosi kemarahan), akan membentuk sifat dan perilaku anak yang lebih bermoral.

      Yuk, sayangi anak-anak kita.

      Semoga bermanfaat

  17. zuropiah says:

    asslm..bu erin,,,saya seorang guru dan memiliki beberapa permasalahan di kelas seputar anak
    1. saya mengajar kelas 1 SD dan memiliki seorang siswa yang manja tapi agak tempramen,,jika ingin sesuatu selalu ingin di turuti, dia selalu menangis dan berteriak jika tidak di turuti bahkan dia tidak segan -segan untuk menyakiti guru dan teman – temannya serta merusak apa saja agar keinginannya terpenuhi,,padahal saya sudah memberikan aturan- aturan di kelas. apa yang harus saya lakukan agar siswa tersebut mau mengikuti aturan di kelas, mau menuruti saya dan tidak menyakiti oranglain untuk mendapatkan apa yang dia inginkan??a
    2. di kelas saya juga terdapat siswa kembar identik, kakaknya sangat ketergantungan dengan adiknya, dia mau melakukan sesuatu yang kakaknya lakukan, padahal secara akademik kakaknya lebih bagus akademiknya dibanding adiknya,,tetapi dalam bersosialisasi adiknya lebih bisa berbaur dengan teman-temannya daripada kakaknya..setiap kakaknya dipisahkan dengan adiknya untuk sekedar bermain dalam kelompok kakaknya berontak dan marah sekali bahkan dia malah menyakiti dirinya sendiri karena dipisahkan dengan adiknya,,sampai-sampai kami jadi kehabisan akal akhirnya menyatukan mereka kembali, tapi walaupun sudah disatukan, kakaknya tetap tidak berhenti nangis dan marah, yang saya khawatirkan adiknya jadi tidak berkembang karena harus selalu menuruti kemauan kakaknya yang tidak bisa bekerjasama dengan teman-temannya yang lain..
    bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut ya bu??
    mohon infonya …
    trims..

    • Erin_SdS says:

      Wassalamualaikum wr.wb.
      Terimakasih Ibu Zuropiah telah berkunjung dan Sharing di Sini.

      1.) Menghadapi anak yang manja, namun tempramen harus ekstra sabar ya Bu. Cobalah untuk memberi instruksi tugas tidak dengan sebuah perintah “menyuruh”, namun lebih ke arah “mengajak”. Dan memberikan instruksi tidak dengan nada tinggi atau emosi. Jika siswa tersebut tidak paham, malah menjadi emosi/ngamuk, cobalah dekati dengan mengelus punggungnya dengan lembut. Saat ia mulai tenang, berikan pengertian kepadanya perihal seharusnya yang ia lakukan. Namun jika dia tidak mengamuk, cobalah biarkan sampai dia tenang sendiri hingga mau mengikuti kegiatan di kelas.

      Untuk masalah pembentukan karakter anak, Anda dapat bekerjasama dengan orangtua/wali murid mengenai aturan yang harus dijalankan semua siswa ketika berada di kelas/sekolah, sehingga orangtua diharapkan dapat ikut menasihati ketika di rumah saat banyak waktu “mood baik” untuk anak dan saat anak merasa happy sehingga hasilnya siswa berubah, tidak mengganggu jalannya proses belajar mengajar serta mengganggu siswa yang lainnya.

      2.) Untuk masalah anak kembar, menurut saya, pada awalnya Ibu Guru tidak perlu memaksa memisah kedua saudara ini. Mungkin bisa saja, karena mereka sedang tahap mengenal teman baru, sehingga salah satu tidak mau dipisah dari kembarannya dan menganggap kembarannya adalah satu-satunya teman terbaik. Karakter anak kembar yang tua tidak cepat berbaur, sedang si adik cepat beradaptasi dan cepat kenal teman baru. Dalam satu kelompok tersebut, coba libatkan teman-teman yang lainnya, sehingga lambat laun ketika mereka sudah mengenal dengan teman yang lain, Anda dapat mulai memisahkan kelompok belajar masing-maisng secara perlahan.

      Untuk kelancaran kemajuan prestasi dan sosialisasi anak kembar ini, tidak perlu ragu untuk berdiskusi dengan orangtua si kembar. Sehingga di rumah, orangtua juga diharapkan dapat memeberikan pengertian kepada anak. Yang tujuannya mereka memahami bahwa anak kembar (walaupun identik), mereka adalah 2 individu yang berbeda. Yang pada akhirnya melalui sekolah, mereka masing-masing dapat menjadi pribadi yang mandiri, tidak bergantung saudara kembarannya, dapat bersosialisasi dan bukan saudara kembarnya saja, satu-satunya teman terbaik untuk mereka.

      Semoga bermanfaat

  18. intan says:

    hi bu, anak saya 5th 10 bulan, sudah masuk SD selama 2 bulan, namun setiap hari dia masih saja sulit utk ditinggal ketika sudah sampai disekolah, tangannya akan memegang tangan sy erat2, dan kl kita lepas trus dipegangin gurunya dia akan mulai nangis dahsyat, sampai mengamuk dilantai dan kdg mencakar siapapun yg berusaha memegangnya, sudah pernah sy ajak ngobrol berkali2 apa ada yg buat dia tdk nyaman disekolah, tp dia selalu geleng2, atau kl dikasi opsi pindah sekolah dia jg ga mau, bsk masih mau sekolah? dia ttp memgangguk, tp bsk paginya ya begitu lg, saya sudah berusaha bersabar jg, tp kira2 apa memang adaptasi thdp sekolah baru itu butuh waktu yg lama ya, memang sih ekspektasi sy pengen anak saya itu bs cpt mandiri, tp mungkinkah memang umurnya yg blm matang utk masuk sd? padahal wktu dia playgroup dan tk dia sudah biasa ditinggal dan ga nangis, cm emang tk ke sd nya berubah teman2 di sd baru semua, cm sy bingung hrs bagaimana lg menghadapi anak saya ini, dia seperti tidak PD gt setiap ke sekolah, dan akhirnya dihari2 or lingkungan lain pun makin sulit beradaptasi selalu nempel terus sama mamanya, ga mau lepasin tangannya ke saya, please masukannya terima kasih

    • Erin_SdS says:

      Halo Ibu Intan,
      Terimakasih telah berkunjung dan sharing di sini.

      Memang setiap anak berbeda-beda dalam penerimaan/adaptasi terhadap hal-hal baru,di sini yang dihadapi adalah lingkungan sekolah baru. Menurut saya, sangat wajar hal ini terjadi pada beberapa anak. Dan tentu semua orangtua berharap si anak mudah beradaptasi dan cepat mandiri ketika mulai di sekolah baru-nya.

      Ibu dan ayah tetap harus menjalin komunikasi yang baik terhadap anak ketika berada di rumah. Terus support dan memotivasi anak agar mau bersekolah, namun jangan sampai memarahi atas perilaku anak yang belum sesuai harapan (mengamuk/nangis ketika akan sekolah). Pendekatan yang halus, orangtua / tidak galak ketika mengajak ngobrol anak(seperti curhat), akan memudahkan anak agar tidak takut untuk berbicara sejujur-jujurnya ketika si anak mulai tidak nyaman bersekolah, misalnya: ada teman yang menjahilinya, namun ia takut membalas/takut bilang ke bu guru.

      Pendekatan/komunikasi orangtua dan guru juga harus dijalin. Agar guru dapat membantu mengambil alih ketika anak sudah berada di sekolah.

      Dan sangat penting untuk orangtua, melakukan pendekatan kepada teman-teman anaknya, dengan mengenal/mengerti teman-teman satu kelas anaknya. Paling tidak, orangtua mengenal 1-2 teman sekelas anak, coba dekatkan mereka. Misal yang rumahnya terdekat. Sesekali ajak anak bermain bersama teman sekelasnya tersebut ketika pulang sekolah. JIka anak sudah mengenal/dekat dengan beberapa teman sekelasnya, ini juga akan membantu psikis anak untuk memotivasi semangat bersekolah.

      Semoga masukannya membantu

  19. retno says:

    Assallamualaikum Wr.Wb…saya mempunyai ponakan yang umurnya 3th..dia suka sekali berteriak teriak dan mengancam temannya.sampai ibunya harus marah marah dan berteriak sambil memukul dan mencubit kadang jg keluar kata kata yang kasar.Saya yang melihat nya kadang tak tega dan memilih untuk menghindar karna saya juga punya anak yang umurnya 5th.Apakah saya harus menasehti si ibu tersebut?Thanks :)

    • Erin_SdS says:

      Waalaikum salam wr wb.
      Halo Ibu Retno, terimakasih sudah berkunjung dan Sharing di Sini.

      Karena ini masih keponakan Anda sendiri (berarti si Ibu anak tersebut juga masih saudara dengan Anda), tidak ada salahnya jika Anda berbicara langsung pada ibu ponakan Anda. Tentu dengan konteks seperti curhat dan memakai kalimat yang tidak membuatnya tersinggung.

      Misalnya, “aku kasian dengan anakmu kalau suka teriak-teria dan bicara kasar apalagi kalau sampai mengancam-ngancam temannya, nanti bisa dijauhi teman-temannya lho, pada takut.”

      Coba, saat menasehati diganti caranya dengan tidak pakai marah atau kata-kata kasar dan memukul. Menasehati dengan cara halus, agar si anak melunak dan berubah tidak seperti itu lagi. Kalau sering dimarahi dengan kasar, dia akan tertanam kasar dan mencontoh seperti itu di luar ketika dengan teman-temannya.

  20. rani says:

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Saya punya adik sekarang berumur 10 th, dia sekarang ini seringkali ngamuk seperti melempar barang, memukul, memaki bahkan sampai mengancam jika ada keinginan yang tidak dapat tercapai atau sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dia. mungkin ini salah Kami(Ibu, Ayah & saya) juga karena sewaktu dia berbuat kesalahan selalu di marahi bahkan pernah dicubit juga karena sering di kekang dan terlalu memanjakan.
    bagaimana ya cara memberikan penejelasan kepada adik saya kalo sesuatu yang diinginkan itu tidak selalu didapt pada saat itu juga?
    trus bagaimana cara menenangkan dia saat sedang ngamuk?

    thanks

    • Erin_SdS says:

      Waalaikum salam, wr wb.

      Halo Mba Rani, terimakasih sudah berkunjung dan Sharing di sini.

      Saya akan coba memberi masukan. Menurut saya, perilaku buruk Adik anda dapat berubah seiring waktu, namun dengan bantuan semua anggota keluarga harus turut berpartisipasi yaitu,dengan merubah perilaku buruk.

      Saling mengingatkan pada semua anggota keluarga ketika berbicara kasar/nada keras, mengingatkan untuk mengendalikan emosi/tempramen, misalnya ayah ibu lebih bersikap halus namun tegas ketika mengingatkan/menyuruh anak DARIPADA berbicara nada tinggi dan mengancam.

      Saya yakin, dengan memberikan pengertian dan penjelasan dengan nada sehalus-halusnya, tentu adik akan mengerti bahwa sesuatu tidak akan langsung dituruti. Namun, jika ia mengamuk saat meminta sesuatu yang belum dituruti, sebaiknya diamkan sampai ia tenang. Beri penjelasan setelah ia tenang, Lebih baik lagi, jika Anda/ayah/ibu dapat mengalihkan perhatiannya pada sesuatu yang membuatnya lupa akan yang ia minta tadi. Misalnya, mengajaknya bermain sesuatu, atau memberinya jajanan yang sama menarik lainnya.

      Semoga bermanfaat

  21. Yanti says:

    Assalaamualaikum wr.wb

    Saya mempunyai anak usia 2 tahun 10 bulan. Kesehariannya dia di asuh oleh Eyangnya, karena saya bekerja diluar rumah. Saya akui, saya sering membentak dia jika dia melakukan kesalahan, walaupun setelah itu saya meminta maaf ke anak saya. Karena seringnya saya marah, dia jadi selalu bilang kalau “Bunda Galak”, dan lebih suka melakukan sesuatu dengan Eyang putrinya. Bahkan terkadang dia tidak mau dengan saya.Walaupun untuk hal hal yang lain terkadang dia mau dengan saya, tetapi tetap yang dicari ya Eyang Putrinya. Saya menangis dengan kejadian ini. Saya menyesal…
    Bagaimana caranya mengobati trauma yang dialami anak saya ini, dan membuat dia nyaman lagi bersama saya.
    Terima kasih..

  22. Amyu shelo Mira says:

    ass wr.wb
    saya mmpunyai adik prmpuan berumur 7th..dan setiap dia mmpunyai keinginan.itu hrus d lkukan sprt cntoh..bermain hp trus mnerus smpe lupa sgalanya.ktika d stop bermain dia mengamuk nenangis berjam2.dan yg lbh parah ‘y dia jg memukuli ibu dan siapapun yg mncoba menenangkanya.dan ktika d kunci d dlm kamar pd saat mngamuk..dia tdk berhnti menangis dan memporak parik isi kamar bahkn sampe pipis d situ dan berguling d air pipis’y.
    kita tdk tahu cara apa lg yg bs kita lkukan untk mngatasi’y?
    cara apa yg terbaik utk mngtasi’y?
    terima kasih…

  23. IFFI says:

    Saya punya keponakan yang tinggal dirumah saya, anak laki-laki dengan usia 1,5 tahun,dia mempunya kebiasan nangis dengan kencang dan berteriak-teriak tatkala ibunya tak tampak atau keinginannya tidak terpenuhi,suka melempar barang apa saja yang dia pegang,suka buang muka bila kita coba ajak bicara walau dalam kondisi tenang atau tidak sedang mengamuk,suka menangis bila disapa orang yg baru bertemu atau setelah lama baru bertemu walaupun itu dengan nenek yang sangat sayang padanya, bagaimana cara untuk mengarahkan anak yang seperti ini ya bunda?terimkasih

  24. nella says:

    Sy memiliki anak 5th cowo dan 3th cewe. Anak dua2ny sdh skolah di paud dan ikut kursus calistung 3x/minggu. Anak sy yg pertama prtumbuhn dan perkembangn sy liat normal hy kerap marah jika di tempat kursusny bila mengerjakan pelajarn yg diberikn tp hasilny msh salah dan jadi geregetan sndiri plampiasnny dgn cara memukul meja, mnangis kencang, kertas plajarn yg diberikn di awut2in dan dilempar. Nanti stelah sy masuk ke klsny menenangkn dgn cara memeluk smbil membujuk kurleb 10mnt baru mau brhenti mnangis wlpun msh ada ngambekny dan tidak mau blajar lg/minta keluar dr kelas dan itu kami (guru dan sy turuti)wlpun dluar nantiny dia hy duduk2 atau jln2 aj tidak main, dan ini bener2 jadi tontonan dan prtanyaan anak2 dan ibu2 lainny klu udh spt ini. Drmhpun sdh sy nasihati klu hal tsb tdk baik, dia mngiyakn tp akn trulang lg kjadianny nanti. Ini kerap trjadi berulang2 skitar 1x/2bln. Apa anak sy ad klainan bu?. Apa yg hrs sy lakukan agar kjadian ini tdk brulang lg? sy lihat teman2ny yg lain tdk sprti itu. Terima kasih ats jawabanny bu:)

Leave a Reply


8 − = six